Wednesday, 6 January 2016

Benarkah Insomnia Meningkatkan Resiko Kematian…???




Hai pembaca sekalian.!!! Bagaimana kabarnya..? mudah-mudahan sehat, bahagia dan sukses selalu. Kali ini saya akan membahas tentang bahaya insomnia yang ungkin akan membawa kepada kematian.

Masih hangat tentang kasus raja pop dunia Michael Jackson yang meninggal dikarenakan mengalami overdosis obat penenang atau obat tidur karena mengalami insomnia akut selama bertahun-tahun.

Cherilyn Lee adalah seorang perawat yang pernah merawat Jacko di rumahnya di LA. Pada Rabu (28/8/2013), ia memberi kesaksian kalau dirinya mencoba membantu Jacko mengatasi insomnia yang memburuk menjelang kematiannya 2009 lalu. 

Ia memberi vitamin melalui infus untuk membuatnya lebih sehat saat tur dunianya. Sebulan setelah menjalani perawatan dengan Lee, pelantun Beat It ini merasa sehat.(Liputan6).

Sebuah survei dari 1,1 juta penduduk di Amerika yang dilakukan oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya.

Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis - tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian.

Baca Juga :10 Cara Mudah mengatasi insomnia (Susah Tidur) Tanpa Obat…!!!
                  Mengenal INSOMNIA dan Resiko Kematian yang Mengiringinya..!!!

insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.

Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.

Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.

Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu:
  • Susah tidur (sleep onset insomnia),
  • Selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia),
  • Selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia).
Di Amerika Serikat, kurang lebih sepertiga penduduknya memiliki gangguan tidur. Sedangkan di Indonesia gangguan tidur bervariasi, tergantung pekerjaan yang dimiliki.

Pekerjaan-pekerjaan yang mengakibatkan terganggunya siklus tidur—seperti perawat, dokter dan satpam—sangat besar menimbulkan gangguan tidur pada individu tersebut. Ada penelitian yang membuktikan bahwa 70% dari perawat di Jakarta mengalami insomnia.

Insomnia lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria dengan perbandingan 3 : 2. Dengan bertambahnya usia bertambah pula angka kejadian gangguan tidur.

Gejala insomnia adalah susahnya seorang individu untuk jatuh ke dalam tidur, sehingga terjadi peningkatan waktu antara tidur. Sulitnya mempertahankan tidur dan tidak dapat tidur secukupnya mengakibatkan seorang pasien terbangun sebelum dia mendapatkan tidur yang cukup.

Gangguan dari siklus tidur dapat disebabkan oleh irama sikardian (gannguan dalam irama tidur bangun) yang terganggu karena jet-lag atau pekerjaan.

Hypersomnia atau tidur yang berlebih adalah gejala dari kurangnya kualitas dari tidur seseorang sehingga seringkali dibutuhkan waktu tidur yang lebih lama dari normal. Beberapa gejala lain dari gangguan tidur adalah tidur berjalan (sonambulisme) dan mimpi buruk (nightmares).

Buku Applications in Self-Management (Brian T. Yates, 1986) memberikan daftar untuk mendiagnosis masalah tidur. Anda mungkin memiliki masalah tidur jika beberapa dari hal-hal berikut terjadi pada Anda:


  • Merasa lelah dan tertekan pada waktu pagi hari atau malam hari. 
  • Memiliki lingkaran gelap dan membengkak di sekitar mata anda.
  • Jatuh tertidur di pesta atau setelah makan malam di rumah orang.

  • Kurang aktif dan memiliki sedikit hubungan sosial.
  • Merasa seperti kehilangan fokus perhatian yang membuat anda tidak dapat merespon rangsangan dari luar dan membuat anda sensitif terhadap hal lainnya.
  • Sangat sensitif terhadap rangsangan internal seperti sakit perut (maag) atau kejang-kejang.Sering tidak dapat tidur, tidur tidak nyenyak ataupun bangun terlalu dini.
  • Takut menghadapi malam hari karena anda susah tidur.
  • Mudah tersinggung atas hal-hal yang tidak penting.
  • Mengkonsumsi obat-obat tidur dalam beberapa bulan terakhir.
  • Menggunakan rokok, alkohol atau obat-obatan untuk menenangkan diri dan membantu anda untuk tidur.
  • Kecanduan obat-obatan, terutama yang mengandung zat penenang.



Jika ada salah satu dari sejumlah daftar tersebut terjadi pada Anda, maka dapat dipastikan Anda telah mengalami masalah dalam tidur.


Demikianlah Resiko yang mungkin terjadi bagi penderita insomnia akut yang perlu anda ketahui agar mampu berhati-hati dan waspada untuk menghindari sedapat mungkin. Karena penyakit ini cukup berbahaya apabila tidak diatasi dengan cepat dan benar.

Semoga Bermanfaat…!!!


Share this

0 Comment to "Benarkah Insomnia Meningkatkan Resiko Kematian…???"

Post a Comment