Hai pembaca sekalian.!!! Bagaimana kabarnya..? mudah-mudahan sehat,
bahagia dan sukses selalu. Kali ini saya akan membahas tentang bahaya insomnia yang ungkin akan
membawa kepada kematian.
Masih hangat tentang kasus raja pop dunia Michael
Jackson yang meninggal dikarenakan mengalami overdosis obat penenang atau obat
tidur karena mengalami insomnia akut selama bertahun-tahun.
Cherilyn Lee adalah seorang perawat yang pernah merawat Jacko di
rumahnya di LA. Pada Rabu (28/8/2013), ia memberi kesaksian kalau dirinya
mencoba membantu Jacko mengatasi insomnia yang memburuk menjelang kematiannya
2009 lalu.
Ia memberi vitamin melalui infus untuk membuatnya lebih sehat saat tur
dunianya. Sebulan setelah menjalani perawatan dengan Lee, pelantun Beat It
ini merasa sehat.(Liputan6).
Sebuah survei
dari 1,1 juta penduduk di Amerika
yang dilakukan oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang
dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah,
sedangkan orang-orang yang tidur
kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya.
Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian
sebesar 15%. Insomnia kronis -
tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat
menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga
berkaitan dengan
peningkatan angka kematian.
Baca
Juga :10 Cara Mudah mengatasi
insomnia (Susah Tidur) Tanpa Obat…!!!
Mengenal INSOMNIA dan Resiko Kematian yang Mengiringinya..!!!
insomnia
sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan
psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah
satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.
Dalam
terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan
menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.
Banyak
penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk
bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan
ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa
obat tersebut.
Ada
tiga jenis gangguan insomnia, yaitu:
- Susah tidur (sleep onset insomnia),
- Selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia),
- Selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia).
Di
Amerika Serikat, kurang lebih sepertiga penduduknya memiliki gangguan tidur.
Sedangkan di Indonesia gangguan tidur bervariasi, tergantung pekerjaan yang
dimiliki.
Pekerjaan-pekerjaan
yang mengakibatkan terganggunya siklus tidur—seperti perawat, dokter dan
satpam—sangat besar menimbulkan gangguan tidur pada individu tersebut. Ada
penelitian yang membuktikan bahwa 70% dari perawat di Jakarta mengalami
insomnia.
Insomnia
lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria dengan perbandingan 3
: 2. Dengan bertambahnya usia bertambah pula angka kejadian gangguan tidur.
Gejala
insomnia adalah susahnya seorang individu untuk jatuh ke dalam tidur, sehingga
terjadi peningkatan waktu antara tidur. Sulitnya mempertahankan tidur dan tidak
dapat tidur secukupnya mengakibatkan seorang pasien terbangun sebelum dia
mendapatkan tidur yang cukup.
Gangguan
dari siklus tidur dapat disebabkan oleh irama sikardian (gannguan dalam irama
tidur bangun) yang terganggu karena jet-lag atau pekerjaan.
Hypersomnia
atau tidur yang berlebih adalah gejala dari kurangnya kualitas dari tidur
seseorang sehingga seringkali dibutuhkan waktu tidur yang lebih lama dari
normal. Beberapa gejala lain dari gangguan tidur adalah tidur berjalan
(sonambulisme) dan mimpi buruk (nightmares).
Buku
Applications in Self-Management (Brian T. Yates, 1986) memberikan daftar untuk
mendiagnosis masalah tidur. Anda mungkin memiliki masalah tidur jika beberapa
dari hal-hal berikut terjadi pada Anda:
- Merasa lelah dan tertekan pada waktu pagi hari atau malam hari.
- Memiliki lingkaran gelap dan membengkak di sekitar mata anda.
- Jatuh tertidur di pesta atau setelah makan malam di rumah orang.
- Kurang aktif dan memiliki sedikit hubungan sosial.
- Merasa seperti kehilangan fokus perhatian yang membuat anda tidak dapat merespon rangsangan dari luar dan membuat anda sensitif terhadap hal lainnya.
- Sangat sensitif terhadap rangsangan internal seperti sakit perut (maag) atau kejang-kejang.Sering tidak dapat tidur, tidur tidak nyenyak ataupun bangun terlalu dini.
- Takut menghadapi malam hari karena anda susah tidur.
- Mudah tersinggung atas hal-hal yang tidak penting.
- Mengkonsumsi obat-obat tidur dalam beberapa bulan terakhir.
- Menggunakan rokok, alkohol atau obat-obatan untuk menenangkan diri dan membantu anda untuk tidur.
- Kecanduan obat-obatan, terutama yang mengandung zat penenang.
Jika ada salah satu dari sejumlah daftar tersebut terjadi pada Anda, maka dapat dipastikan Anda telah mengalami masalah dalam tidur.
Demikianlah
Resiko yang mungkin terjadi bagi penderita insomnia akut yang perlu anda
ketahui agar mampu berhati-hati dan waspada untuk menghindari sedapat mungkin.
Karena penyakit ini cukup berbahaya apabila tidak diatasi dengan cepat dan
benar.
Semoga
Bermanfaat…!!!



0 Comment to "Benarkah Insomnia Meningkatkan Resiko Kematian…???"
Post a Comment